Artikel ini saya ambil dari situsnya Andrie Wongso:
Mari kita kembali bicara mengenai cinta, mengenai Hukum 100 % tentang Cinta.
Jika
besarnya Cinta dalam diri kita adalah 100% (kekuatan penuh), maka
berapakah komposisi ideal yang harus kita bagi untuk diri kita sendiri
dan orang yang kita cintainya (pasangan hidup kita misalnya)
Pilihan pertama kita adalah 80% - 20% (Cinta bagi diri kita sendiri - Cinta untuk pasangan)
Pilihan
ini menunjukkan bahwa kita lebih mencintai diri kita sendiri
dibandingkan dengan cinta kita pada pasangan kita (atau orang lain yang
kita kasihi), komposisi cinta seperti ini kurang ideal karena perasaan
egois dan mau menang sendiri akan lebih bermain di sini, cinta yang
dibangun dengan komposisi seperti ini cenderung hanya akan mendatangkan
konflik. Kita menjadi tak segan-segan menyingkirkan orang lain demi kepentingan kita.
Lalu bagaimana dengan pilihan 20% - 80% ?
Kebalikannya,
mencintai orang lain di luar diri kita adalah baik, tapi jika kita
tidak mencintai diri kita sendiri juga adalah petaka. Berapa
banyak teman kita yang terjerumus dalam Narkoba? Yang harus menderita
karenanya, Itu adalah salah satu contoh rendahnya prosentasi cinta pada
diri sendiri. (Yang selanjutnya akan meruntuhkan cinta kita kepada
orang lain)
Atau
seorang ibu (orang tua tunggal) yang tidak memperhatikan kesehatannya
berjuang mati-matian untuk menghidupi kedua anak yang dicintainya
adalah contoh berikutnya. Lalu apa yang salah? Ketika
sang ibu tidak memperhatikan cintanya pada diri sendiri, maka ibarat
mesin yang tak pernah diurus, suatu saat akan rusak juga. Akan lebih
terasa lagi ketika kerusakan itu terjadi pada saat produktifitas sang
ibu ini masih sangat dibutuhkan untuk menopang hidup keluarga tersebut. Pada
saat itu, sang ibu bukan saja membuat dirinya sendiri menderita, tapi
juga kedua anaknya yang sangat ia kasihi (yang diklaim melebihi kasihi
terhadap diri sendiri).
Apakah komposisi ideal itu 50% - 50% ?
Supaya adil, mungkin ini alasan kita memilih komposisi ini.
Lagi-lagi
komposisi seperti ini juga tidak ideal, kita tidak maksimal dalam
mencurahkan cinta, baik bagi diri kita sendiri ataupun bagi orang lain.
Lilin Cinta
Sebelum kita menemukan komposisi ideal itu, mari kita katup mata kita,
kita biarkan diri kita dalam keheningan. Kita
bayangkan bahwa saat ini ada kegelapan yang menyelimuti kita, tak ada
setitik cahaya pun yang menerjang memasuki ruangan itu. Lalu di tangan
kita ada sebuah lilin kecil yang memancarkan cahaya, menerangi ruangan
itu.
Jika
kita tidak sendirian di ruangan itu, jika di ruangan itu masih ada yang
lain dengan masing-masing memegang sebatang lilin kecil, akankah kita
membagikan nyala lilin yang ada di tangan kita?
Semua mungkin akan mengatakan YA.
Lalu kenapa kita mau melakukanya?
Alasannya, karena ketika kita membagikan nyala (cahaya) itu kepada yang
lain, cahaya lilin kita tidak berkurang itensitasnya, tidak
sedikit pun. Bahkan ruangan akan semakin bercahaya dengan nyala
lilin-lilin yang lain, ruangan akan semakin terang karena kita telah
berbagi dengan sesama.
Seperti
cahaya lilin itulah Cinta, cinta tak akan berkurang sedikitpun
intensitasnya ketika dibagi dengan sesama, bahkan cinta akan bersemi
dan semakin berkembang, jika masing-masing dari diri kita menyalakan
lilin-lilin itu dan kembali membagikannya pada yang lain. Maka dunia
akan diterangi oleh cahaya Cinta.
Dan ketika kita ditanya kembali, berapa komposisi ideal untuk sebuah Cinta?
Maka dengan mantap kita menyatakan 100% - 100%
Pertanyaan
terakhir, berapa komposisi ideal untuk sebuah cinta yang dibagikan
untuk diri kita sendiri, ayah kita, ibu kita, suami/istri kita,
anak-anak kita, saudara kita, family kita, teman kita bahkan musuh kita.
Maka jawabannya adalah : 100 %, 100 %, 100%, 100%, 100 %, 100 %, 100%, 100%, 100%
Karena
Cinta tidak akan berkurang sedikitpun ketika dibagikan untuk yang lain,
bahkan ia akan semakin bersemi seperti cahaya lilin yang kita bagikan
untuk yang lain, ia akan mencahayai dan menerangi dunia.
Salam Sukses Selalu
Seng Guan CPLHI
Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal sebelumnya berpesan dua hal: pertama jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu, dan kedua jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari. Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.
1. Jawab anak yang bungsu: Inilah karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih. Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak.
2. Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama. Jawab anak sulung: Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut. Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam kerja lebih lama.
Bagaimana dengan anda? Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat ditanggapi dengan presepsi yang berbeda jika kita melihat dengan positif attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita… Pilihan ada di tangan anda.
‘ Berusaha melakukan hal biasa yang dikerjakan dengan cara yang luar biasa ‘
** IF YOU CAN NOT CHANGE A THING, YOU CAN CHANGE THE WAY YOU THINK OF IT **
"Aku tidak mau merepotkanmu"; "Sorry, sudah merepotkan."
Mungkin kita sering mendengar kalimat tersebut, baik dari teman kita, anggota keluarga kita dan sebagainya…
Yang lebih tragis lagi, mungkin kalimat tersebut keluar dari mulut dari seorang gadis yang kita sedang kita incar…
Saya juga sering mengalami hal tersebut (oh… God…)
Terus saya pun berpikir, merenungkan kalimat - kalimat tersebut…
"Merepotkan…"
"Merepotkan…"
"Merepotkan…"
Koq dia bisa berpikir begitu ya? padahal saat saya menawarkan ‘diri’ saya, hal tersebut tidak akan menjadi beban bagi diri saya…
Ya… memang saya tahu kalau dia seorang cewek yang cukup mandiri, apalagi dia tidak punya perasaan apa - apa terhadap saya… so saya pun tidak terlalu menyimpan rasa tidak enak tersebut dihati, tapi kalau terus - terusan mendapat kalimat tersebut, rasanya ingin meledak juga akhirnya…
Bukankah orang yang merepotkan itu orang yang tidak mau merepotkan orang lain, takut merepotkan orang lain?
Pada saat dia bisa menyelesaikan ’sesuatu’ dengan lebih cepat, lebih baik, dengan bantuan orang lain, dia lebih memilih untuk menyelesaikannya sendirian, ‘tidak mau merepotkan orang lain’, "TIDAK MAU MEREPOTKAN", dan katakanlah jika pada akhirnya apa yang dia kerjakan malahan lebih buruk, atau tidak bisa dia selesaikan sendirian, terpaksa meminta bantuan orang lain, bukan dia lebih merepotkan orang lain?
Lihat saja waktu yang telah dia habiskan, jika pada awalnya dia tidak berprinsip ‘tidak mau merepotkan orang lain’, mungkin dia sudah menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang lebih singkat. Padahal mungkin orang yang hendak memberikan bantuannya, sedang menunggu dia untuk memanggil dirinya kembali, yang berarti orang tersebut menghabiskan waktunya secara sia - sia untuk orang tersebut.
Bukankah lebih baik kita mengganti kalimat: "Sorry, telah merepotkan" dengan "Terima kasih atas bantuanmu" dan "Saya tidak mau merepotkanmu" dengan "Saya akan menghargai bantuanmu"
Mandiri itu bagus, tapi tidak semua kondisi mengharuskan kita begitu. Disamping sebagai makhluk individu, kita juga sebagai makhluk sosial.
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda – benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba – tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat – cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
"Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!" teriak Cinta.
"Aduh! Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini."
Lalu Kekayaan cepat – cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.
"Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan.
"Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta.
"Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak – isak. Saat itu lewatlah Kesedihan.
"Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu," kata Cinta.
"Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…" kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya.
Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba – tiba terdengar suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat – cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, Pengetahuan, siapa sebenarnya orang tua itu.
"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.
"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman – teman yang mengenalku pun enggan menolongku" tanya Cinta heran.
"Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu-lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu …"
2 days ago, my lecturer asked us to play ‘a game’, make us to choose the only one we prefer the most, by eliminating the other nine, one by one, depended on which one is more precious for us…
10 Materials:
- Health
- Success
- Job
- Spiritual
- Love
- Friends
- Family
- Happiness
- Education
- Money
I Choose ‘Love’ because…
~ Love is exist in every aspect of our life…
~ Love is following the other nine above…
# In Health
We have to Love ourself, realize how important ourself is, hence we take care of ourself
# In Success
Generally, it means that we have the things we Love (Clothes, Houses, etc)
# In job
To stand still in our job, we must Love what we do, right?
# Spiritual
i’m sure that Love is a kind of spiritual thing…
# Friends
We do have friends, because we Love them, how they treat us…
# Family
Love is the essence in a family, love between husband and wife, parents and children, among brothers and sisters…
# Happiness
Why do we happy? Because we get something we love, right? being loved, have jokes, have loyal friends, etc, all of them are the things we want, we love, right?
# Education
People have different path in Education, she learns this, he learns that, i learns A, you learns B, etc… Why? because We Love it….
# Money
Should i explain it more to you while you’re already know? hehe…
~ We sacrifice the others to choose the only one, because we Love it the most…
# It’s like our parents, they choose to ignore their HEALTH, do something that might hurt them, because they love us, their children…
# My Uncle spend all of his saving (MONEY) to My Aunt’s hospital fee, although there’s no guarantee that she will be the same as before, after she had an accident, get awful
wounds…
# A wife have to resign from her JOB, because she will going with her husband - that she love, of course - that will move to a faraway place…
# In order to make Verlaine - the one he loves - stays alive in an accident, Valerint has to sacrifice himself…
~ Love gives strength, courage to the other nine…
# Because we Love our parent, ourself, we learn, try to get higher Education
# Because we Love someone, we do more, better, in our Job, to reach Success
# Because we Love something, somebody with what we have, we gain happiness
# Because we Love our parent, we learn to be a good child, build our own Family
# Because we want something that we Love, we try to earn more Money
So… he, she, they, you, me, us have Love in ourself, every part of it, even since from the beginning, our birth… we come to this world because of Love…
We choose another, except Love, then we might loss another…
We choose Love, then we might have all…
@ Love is the emblem of eternity; it confounds all notion of time: effaces all memory of a beginning, all fear of an end. (Madame de Stael)
@ Love is the only thing that can be divided without being disminished. (Anonymous)
@ Love is the master key that opens the gates of happiness. (Oliver Wendell Holmes)
@ Love is not only something you feel, it’s something you do. (David Wilkerson)
@ Love… It surrounds every being and extends slowly to embrace all that shall be. (Kahlil Gibran)
@ Love doesn’t make the world go ’round. Love is what makes the ride worthwhile. (Franklin P. Jones)
@ One word frees us of all the weight and pain in life. That word is Love. (Sophocles)
@ Three grand essentials to happiness in this life are something to do, something to love, and something to hope for. (Joseph Addison)
@ A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams. (Unknown)
@ Love comforteth like sunshine after rain. (William Shakespeare)
@ Who travels for Love finds a thousand miles not longer than one. (Japanese Proverb)
@ Love has a way of making places sacred and moments meaningful. (Unknown)
@ There are three things that will endure - faith, hope, and love - and the greatest of these is love.
What’s the greater than Love?
2 hari yang lalu, dosen saya memainkan sebuah ‘permainan’, meminta kami memilih yang paling kami pentingkan dari 10 hal, mengeliminasi 9 hal yang lain, satu per satu, tergantung dari yang mana yang lebih berharga menurut kami.
10 hal itu:
- Kesehatan
- Kesuksesan
- Pekerjaan
- Spiritual
- Cinta
- Teman
- Keluarga
- Kebahagiaan
- Pendidikan
- Uang
Saya memilih "Cinta" karena…
~ Cinta itu ada setiap aspek kehidupan
~ Cinta itu ‘mengikuti’ kesembilan yang lainnya
# Kesehatan
Kita harus mencintai diri kita, menyadari betapa pentingnya diri kita, baru kita bisa menjaga diri kita
# Kesuksesan
Secara umum, itu berarti bahwa kita memiliki apa yang kita Cintai
# Pekerjaan
Untuk bertahan dalam Pekerjaan kita, kita harus mencintai apa yang kita kerjakan, bukan?
# Spiritual
Saya yakin Cinta juga termasuk hal spiritual
# Teman
Kita mempunyai teman, karena kita mencintai mereka, bagaimana mereka memperlakukan kita
# Keluarga
Cinta merupakan intisari dalam sebuah keluarga, Cinta antara suami istri, orang tua dan anak, kakak abang adik…
# Kebahagiaan
Kenapa kita bahagia? Karena kita memiliki apa yang kita cintai, bukan? Dicintai, lelucon, teman yang setia, dan sebagainya… semua itu hal yang kita inginkan, kita cintai, bukan?
# Pendidikan
Orang memiliki jalan yang berbeda dalam pendidikan, dia belajar itu, dia belajar ini, saya belajar A, kamu belajar B, dan sebagainya… kenapa? karena kita menyukainya…
# Uang
Apa perlu saya jelaskan lagi apa yang telah kamu ketahui? hehe…
~ Kita mengorbankan yang lain, memilih satu - satunya, karena kita paling mencintainya…
# Orang tua kita, mereka menghiraukan kesehatan mereka, melakukan pekerjaan yang mungkin bisa melukai diri mereka, karena mereka mencintai kita, anak mereka…
# Paman saya menghabiskan seluruh tabungannya untuk biaya rumah sakit Tante saya, walaupun tidak ada jaminan bahwa tante akan seperti dulu lagi, setelah dia mengalami kecelakaan dengan luka yang parah…
# Seorang istri memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya, karena dia harus ikut dengan suaminya - yang dia cinta i- yang dimutasi ke daerah yang jauh…
# Agar Verlaine - yang dia cintai - tetap hidup dalam sebuah kecelakaan, Valerint harus mengorbankan dirinya…
~ Cinta memberikan kekuatan, semangat untuk kesembilan yang lainnya…
# Karena kita mencintai orang tua kita, diri kita, kita belajar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi
# Karena kita mencintai seseorang, kita melakukan pekerjaan kita dengan lebih baik, untuk meraih kesuksesan
# Karena kita mencintai orang tua kita, kita belajar untuk menjadi anak yang baik, membangun keluarga kita sendiri kelak
# Karena kita menginginkan apa yang kita cintai, kita mencoba untuk memperoleh uang lebih
jadi, cinta itu ada dalam diri kita, bahkan dari sejak awal, kelahiran kita… kita hadir di dunia ini karena cinta…
Kita memilih yang lain, selain cinta, maka anda mungkin akan kehilangan sesuatu…
Kita memilih Cinta, maka kita memiliki semuanya…
Jadi, ada yang lebih hebat dari Cinta?
Makin tua, aku makin menikmati Sabtu pagi. Mungkin karena adanya keheningan sunyi senyap sebab aku yang pertama bangun pagi, atau mungkin juga karena tak terkira gembiraku sebab tak usah masuk kerja. Apapun alasannya, beberapa jam pertama Sabtu pagi amat menyenangkan.
Beberapa minggu yang lalu, aku agak memaksa diriku ke dapur dengan membawa secangkir kopi hangat di satu tangan dan koran pagi itu di tangan lainnya. Apa yang biasa saya lakukan di Sabtu pagi, berubah menjadi saat yang tak terlupakan dalam hidup ini. Begini kisahnya.
Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil "Tom". Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
"Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjamu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat".
Ia melanjutkan : "Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku".
Lalu mulailah ia menerangkan teori "seribu kelereng" nya. "Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghiitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting".
"Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini", sambungnya, "dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati".
"Lalu aku pergi ketoko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya".
"Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu".
"Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku befikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Tuhan telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi".
"Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!"
Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarumpun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
"Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan".
"Lho, ada apa ini…?", tanyanya tersenyum.
"Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang spesial", jawabku, "Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak ? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng."
HAVE A GREAT WEEKEND AND MAY ALL SATURDAYS BE SPECIAL AND MAY YOU HAVE MANY HAPPY YEARS AFTER YOU LOSE ALL YOUR MARBLES.
Shared by Fr. Rick of Kingston, NY
Remember the five simple rules to be happy:
Ingatlah lima peraturan sederhana ini untuk hidup bahagia.
1. Free your heart from hated.
Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Free your mind from worries.
Bebaskan pikiranmu dari kesusahan.
3. Live simply.
Hiduplah secara sederhana.
4. Give more.
Berilah lebih.
5. Expect less.
Kurangilah harapan.
No one can go back and make a brand new start.
Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai baru dari awal.
Anyone can start from now and make a brand new ending.
Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru.
God didn’t promise days without pain, laughter without sorrow, sun without rain, but He did promise strength for the day, comfort for the tears, and light for the way.
Tuhan tidak menjanjikan hari2 tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.
Disappointments are like road humps,they slow you down a bit but you enjoy the smooth road afterwards.
Kekecewaan bagai "polisi tidur", ini akan memperlambatmu sedikit tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata.
Don’t stay on the humps too long. Move on!
Jangan tinggal terlalu lama saat ada "polisi tidur". Berjalanlah terus !
When you feel down because you didn’t get what you want, just sit tight and be happy, because God is thinking of something better to give you.
Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kau kehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk dirimu.
When something happens to you, good or bad, consider what it means….
Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya ….
There’s a purpose to life’s events, to teach you how to laugh more or not to cry too hard.
Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.
You can’t make someone love you, all you can do is be someone who can be loved, the rest is up to the person to realise your worth.
Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.
The measure of love is when you love without measure.
Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas.
In life there are very rare chances that you’ll meet the person you love and loves you in return.
Dalam kehidupan jarang akan kautemui seseorang yang kaucintai dan orang itu mencintaimu juga.
So once you have it don’t ever let go, the chance might never come your way again.
Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan, ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.
It’s better to lose your pride to the one you love, than to lose the one you love because of pride.
Lebih baik kehilangan harga dirimu kepada orang yang mencintaimu, daripada kehilangan orang yang kaucintai karena harga dirimu.
We spend too much time looking for the right person to love or finding fault with those we already love, when instead we should be perfecting the love we give.
Kita terlalu mem-buang2 waktu untuk men-cari2 orang yang sesuai untuk dicintai atau melihat kesalahan2 pada orang yang telah kita cintai, dari pada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita berikan.
When you truly care for someone,
you don’t look for faults,
you don’t look for answers,
you don’t look for mistakes.
Jika kau sungguh2 peduli pada seseorang,
janganlah kau men-cari2kekurangan2nya ,
kau jangan men-cari2 alasan,
kau jangan men-cari2 kesalahan2nya.
Instead,
you fight the mistakes,
you accept the faults,
and you overlook the excuses.
Malahan,
kau atasi kesalahan2 itu,
kau terima kekurangan2 itu
dan jangan kau hiraukan alasan2 itu.
Never abandon an old friend
you will never find one who can take his place
Jangan pernah meninggalkan rekan lama.
Kau tidak akan pernah men-dapat penggantinya.
Friendship is like wine, it gets better as it grows older.
Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan tambah baik.
Salah seorang temanku pernah ada yang bilang kepada saya,
"teman - temanku parah, mereka hanya melakukan kegiatan - kegiatan yang tidak berguna. Bukannya seharusnya mereka melakukan kegiatan yang dapat menambah skill mereka?"
"Dia tidak tahu diri, sudah tahu skill mereka lebih rendah, bukannya sadar apa?"
"Mereka itu berada di level yang lebih rendah dari saya, teman - teman mereka pun cuma orang - orang yang begitu - begitu saja, beda dengan temanku yang levelnya lebih tinggi"
Dan masih banyak lagi, yang pada dasarnya hampir mirip dengan yang tiga diatas.
Saya pun hanya bisa dengar hal itu dengan senyum - senyum saja tentunya, karena saya mengerti apa yang tidak dia mengerti.
Pertanyaan yang sejenak terpikirkan oleh saya:
1. Standard level yang dia ucapkan, itu sebenarnya siapa yang tentukan?
2.Apakah mungkin semua orang memiliki impian yang sama dengannya?
Jawaban saya mungkin sederhana:
1. Bukankah Sang Pencipta yang sebenarnya menentukan kapasitas diri kita sebagai manusia?
Ya memang mungkin maksud teman saya itu baik, untuk meningkatkan derajat impian mereka, sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka.
2. Sudah tentu tidak sama.
Dalam buku - buku kepribadian, sudah dijelaskan bahwa manusia itu berbeda, unik, bahkan orang yang kembar sekalipun.
Jikalau semua orang mengejar kekayaan, hidup yang mewah, rumah sebesar istana, mungkinlah lahir Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, dan sebagainya?
Teman saya ini bisa dikatakan bahwa dia tidak begitu benar - benar mengerti yang namanya PERBEDAAN.
Seharusnya kita bisa menerima perbedaan, apapun itu, selama tidak merugikan orang lain. Bukankah Perbedaan yang membuat dunia itu indah, bila kita dapat menerimanya?
Ibarat seperti warna, mungkinkah dunia ini hanya dipenuhi warna merah saja, atau biru saja, atau hijau saja?
Tentu tidak bukan?
Bukanlah Lukisan itu menjadi indah, karena perpaduan warna - warna?
Hidup ini tidak selalu cerah, terkadang kita harus menghadapi cuaca mendung, badai, dan sebagainya.
Orang yang bijak, tahu apa yang harus dia genggam dengan kuat, apa yang bisa dia genggam, tahu apa yang harus dia lepaskan, apa yang tidak bisa dia genggam.
Apa saja hal itu?
Kebahagian diri sendiri, yang sering kali dipengaruhi oleh keberadaan orang yang kita sayangi, apabila dia memang bukan untuk kita, just let that person go.
Kesempatan emas yang mungkin kita sia - siakan, sehingga kita menjadi frustasi karena terus menerus memikirkan kesempatan yang hilang itu. Just let it go, kesempatan itu tidak akan pernah datang kembali.
Perasaan tidak enak, karena kita dimarahi, mengalami kejadian yang tidak mengenakkan, dan sebagainya. Let it go, perasaan - perasaan itu tidak sepantasnya engkau pertahankan terus.
Hiduplah dalam waktu sekarang. Yang telah berlalu, biarkanlah berlalu. Terus menerus memikirkan kesempatan yang telah hilang, hanya akan membuat diri kita lengah akan kesempatan yang akan datang. Terus menerus membiarkan diri mempertahankan perasaan - perasaan tidak enak tersebut, akan membuat diri kita membuang kebahagiaan yang seharusnya akan kita peroleh sekarang, dengan sia - sia.
Janganlah menjadi orang yang serakah, dengan terus mempertahankan apa yang telah hilang dari diri kita. Ber-lapang dada-lah dalam menjalani hidup ini, dan engkau akan merasakan kedamaian.